KATA-KATA MUTIARA DAN KALIMAT PILIHAN

EDISI KEAJAIBAB SHALAT SUBUH

Kata kata mutiara dan kalimat pilihan
Keajaiban sholat subuh
1.sholat subuh adalah faktor dilapangkannya rezeki
Pernah suatu ketika Nabi SAW sholat subuh, begitu selesai beliau pun kembali kerumah dan mendapati putrinya, Fatimah, sedang tidur.Maka beliau pun membalikan tubuh Fatimah dengan kakinya, hai Fatimah, bangun dan saksikanlah rezeki Rabbmu, karena Allah SWT membagi-bagikan rezeki para hambanya antara sholat subuh dan terbitnya matahari
2.sholat subuh menjaga diri seorang muslim


Barangsiapa melaksanakan sholat subuh, maka ia berada dalam jaminan Allah, maka jangan sampai Allah menarik kembali jaminan-NYA kepada kalian dengan sebab apapun. Karena siapa yang Allah cabut jaminan-NYA darinya dengan sebab apapun, pasti akan tercabut.kemudian Allah akan telungkupkan wajahnya dalam neraka jahanam.
Oleh karena itu wahai para pemuda yang takut dirinya terkena fitnah godaan wanita, mulailah harimu dengan sholat subuh, niscaya engkau berada dalam lindungan Allah.
Wahai saudaraku yang menghawatirkan anak-anaknya kelak masuk neraka lakukanlah sholat subuh, perintahkan keluargamu untuk melaksanakanya, niscaya engkau dan anak-anakmu akan berada dalam jaminan Allah.
3.sholat subuh sama dengan sholat semalam suntuk
Barang siapa yang melaksanakan sholat isya secara berjamah maka ia seperti sholat malam separoh malam.dan barang siapa yang melaksanakan sholat subuh berjamaah maka ia seperti sholat malam satu malam penuh.
4.sholat subuh adalah tolok ukur keimanan
Batas kita dengan orang-orang munafiq adalah menghadiri sholat isya dan subuh, sebab orang-orang munafiq tidak sanggup menghadiri kedua sholat tersebut.
Sholat terberat bagi orang-orang munafiq adalah sholat isya dan subuh. Padahal seandainya mereka tahu pahala pada kedua sholat tersebut, tentu mereka akan mendatanginya walaupun harus merangkak.
5.sholat subuh adalah penyelamat dari neraka
Tidak akan masuk neraka orang yang melaksanakan sholat sebelum matahari terbit dan sebelum tenggelamnya.


6.sholat subuh adalah salah satu penyebab seseorang masuk surga
Siapa melaksanakan dua sholat bardain, ia masuk surga
Sholat bardain adalah sholat subuh dan sholat ashar
7.sholat subuh akan mendatangkan nikmat berupa melihat wajah Allah yang mulia
Nabi bersabda apabila penghuni surga telah memasuki surga Allah berfirman, apakah kalian ingin aku beri tambahan, mereka menjawab, bukankah engkau telah memutihkan wajah-wajah kami, bukankah engkau telah masukkan kami kedalam surga dan engkau selamatkan kami dari neraka. Rasulullah melanjutkan kemudian dibukalah tabir, maka tidak ada lagi nikmat yang lebih besar daripada nikmat bisa melihat Rabb mereka, inilah nikmat tambahan itu.
8.sholat subuh adalah suatu syahadah, khususnya bagi yang konsisten memeliharanya
Malaikat-malaikat siang bergantian mendampingi kalian dengan malaikat-malaikat malam.dan mereka berkumpul pada waktu sholat subuh dan asar.setelah itu malaikat yang semalaman menjaga kalian naik ke langit, lalu Allah bertanya dan Dia lebih tahu tentang mereka, bagaimana kalian tinggalkan hamba-hambaku, mereka menjawab kami meninggalkan mereka dalam keadaan sholat dan kami datang keapada mereka ketika mereka sholat
9.sholat subuh adalah kunci kemenangan
Bukhari meriwayatkan, apabila Rasulullah akan menyerbu suatu kaum, beliau menundanya hingga tiba waktu subuh
10.sholat subuh lebih baik daripada dunia dan seisinya
Dua rakaat sholat subuh lebih baik daripada dunia dan seisinya
Dua rakaat itu lebih aku sukai daripada dunia dan seluruhnya.
Semoga tulisan ini bermanfaat

========================================================================

Sombong karena Ilmu: Juhala’ Mengaku Fuqaha’

Di dalam kitab-kitab salaf, terutama dalam studi hadits dan akhlaq, bab yang pertama kali diulas adalah bab ilmu. Ini mengindikasikan urgensi (fadhilah) ilmu dalam Islam. Islam dan segala aspeknya dibangun atas dasar ilmu. Oleh sebab itu, para penganutnya didorong untuk selalu belajar dan mengambil pelajaran. Allah sendiri menegaskan: “Katakanlah: Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az-Zumar: 9)

Membangun pribadi dalam Islam adalah membangun semangat keilmuan. Namun seorang penuntut ilmu wajib mempelajari adab dan akhlak telebih dahulu. Tujuannya agar jiwanya ditanamkan etika kepantasan dan batinnya terjaga dari penyakit hati. Bila penuntut ilmu langsung terjun menggeluti halal-haram misalnya tanpa mendalami akhlak, perangainya cenderung keras tak beretika. Itulah sebabnya kenapa para salaf menganjurkan belajar adab dan akhlak sebelum menuntut ilmu tertentu. Begitulah seharusnya. Isilah hati dengan adab, baru mengisi otak dengan ilmu.

Orang yang berilmu rentan dihinggapi penyakit sombong apalagi dengki. Dia sombong memandang rendah kemampuan orang lain. Yang bertitel Doktor meremehkan lulusan S2 dan S1. Pejabat Rektor menganggap para dekan dan dosen berkualitas di bawahnya. Bila sudah sombong sudah pasti dengki. Setiap orang pintar dianggap saingan. Bila salah satu rekan mengeluarkan buku baru, dia kaget bagai tersengat listrik. Tak lama kemudian bukunya pun terbit. Alasannya supaya dianggap tidak kalah produktif menulis.

Kini prilaku sombong tidak saja menjangkiti para dosen atau guru besar, tetapi juga para mahasiswa. Termasuk sebagian mahasiswa studi Islam. Akibat salah ajaran dan salah baca, mereka jadi sok pinter. Mereka yang ilmunya masih sedikit sudah besar kepala. Membaca Arab gundul saja belum becus sudah merasa master dalam bahasa Arab. Hobbi mereka berdebat tanpa ilmu. Semua hal diperdebatkan dan dikritisi. Masih juhala’ mengaku sudah fuqaha’. Masih payah berlagak ’allamah. Sungguh sayang bila ilmu tidak diimbangi dengan pembersihan jiwa. Ilmu malah jadi benalu, alat kesombongan. Jangan heran, bila mahasiswa sekarang dengan fasih mengeritik Imam Syafi’i atau Imam Al-Ghazali. Tepat sekali apa yang disampaikan Oleh Syaikh Zainuddin Abdul Madjid dalam wasiatnya,
Aduh sayang,
Pemuda sekarang berlenggak lenggok
Berasa diri gagah dan elok
Ulama Aulia diolok-olok
”Belum bertaji sudah berkokok”

Para mahasiswa itu tidak takut mengucap kata-kata kasar terhadap para ulama salaf. Para sahabat pun tidak jarang dilecehkan kehormatannya. Contoh kasus, mereka mengekor para Orientalis yang meragukan orisionalitas Al-Qur’an dan Al-Hadits. Oleh karena itu mereka sangat mendukung ide ”Dekonstruksi Al-Qur’an” atau ide pembacaan dan penafsiran ulang kitab-kitab klasik. Mereka membeo para orientalis yang menentang segala hal yang absolut. Betapa sangat lucu, mereka mengapresiai kaum Kuffar dengan menghina ulama-ulama Islam. Padahal kaum orientalis itu berusaha keras untuk meruntuhkan keyakinan kaum Muslim, bahwa al-Quran adalah Kalamullah, bahwa al-Quran adalah satu-satunya Kitab Suci yang suci, yang bebas dari kesalahan.
Aduh sayang,
Baru saja mendapat ijazah
Menyangka diri sudah ’allamah
Tidak menghirau guru dan ayah
”Mencabik mudah menjahit susah”

DR. Adian Husaini, MA merasa miris melihat fenomena ini. ”Semestinya, sebagai orang yang mengaku Muslim, tentu ayat-ayat al-Quran itu menjadi pegangan hidup dan pedoman berpikirnya. Sebab, al-Quran adalah landasan utama keimanan seorang Muslim. Jika tidak mau mengakui kebenaran al-Quran, untuk apa mengaku Muslim! Konsistensi berpikir semacam ini sangat penting, sehingga tidak memunculkan kerancuan dan ketidakjujuran dalam beragama. Bagi kaum Kristen yang percaya Injil, tentu akan menolak al-Quran. Itu sudah normal dan wajar. Aneh, kalau seorang tetap mengaku Kristen, tetapi pada saat yang sama juga mengaku percaya kepada kenabian Muhammad saw dan kebenaran al-Quran.” rilisnya dalam sebuah artikel beliau di Hidayatullah.com

Ilmu itu menurut Wahb bin Munabbih bagai air hujan. Ia turun dari langit manis dan suci. Lalu ia dihisap oleh akar-akar banyak pohon hingga berubah sesuai dengan rasa buahnya. Bila pahit, maka akan bertambah pahit. Bila manis, akan semakin manis. Demikian juga ilmu, tergantung motivasi dan perangai orang yang menuntutnya. Orang yang sombong bertambah sombong. Yang tawadhu’ semakin tawadhu’. Ini karena orang yang dulunya bodoh lalu termotivasi oleh kesombongan, ketika memperoleh ilmu, dan ternyata dapat diandalkan sebagai prestisenya, semakin sombonglah ia. Adapun yang berhati-hati dengan ilmunya, ketika ilmunya bertambah dan ia sadar hajatnya pada ilmu telah terpenuhi, ia makin berhati-hati. Mau’izhatul Mukminin 175

Ilmu yang hakiki adalah ilmu yang sejauh mana ia diraih, semakin mendekatkan kepada Allah, bukan malah menjauh. Semakin dalam diteliti, makin dalam pula cintanya pada-Nya. Semakin berhasil mengidentifikasi hal-hal yang baru, semakin besar kekaguman pada-Nya. Goresan tangannya mengajak mengenal Allah. Uraian kata-katanya menggambarkan ketawadhuan.

Ilmu yang hakiki merupakan kendaraan pribadi menuju taqwa. Ia seolah payung pelindung dari derasnya godaan dunia yang fana. Ia melahirkan keberanian terhadap kebatilan penguasa namun melahirkan ketakutan kepada Sang penguasa sejati. ” Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS. Fatir: 28)

by : Bambang Riyanto, M. Pd 

==========================================================================



Percaya Diri atau Sombong?


Masih ada salah pengertian antara beda makna percaya diri dan sombong. Apa yang menjadi perbedaan antara percaya diri dan sombong? Apakah orang sombong itu menunjukan kepercayaan diri yang tinggi atau justru lemah? Apakah orang yang memiliki cita-cita melebihi cita-cita kita bisa disebut sombong? Pertanyaan ini perlu dijawab dengan tuntas agar kita terhindar dari sikap sombong, tetapi bisa meraih manfaat percaya diri. Sesungguhnya surat itu, dari Sulaiman dan sesungguhnya (isi) nya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang berserah diri“. (QS.An Naml:30-31) Dari Iyadl Ibnu Himar Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku agar kalian merendahkan diri, sehingga tidak ada seorang pun menganiaya orang lain dan tidak ada yang bersikap sombong terhadap orang lain.” (HR.Riwayat Muslim.) Dari ayat dan hadits di atas, ada satu kata yang mengikuti kata sombong, yaitu terhadap… Artinya kata sombong bersifat komparatif, yaitu membandingkan dengan orang (makhluq) lainnya. Artinya kesombongan bermakna dalam hal merasa lebih tinggi, lebih baik, atau lebih lainnya dengan orang atau makhluq lainnya. Dia merasa lebih hebat daripada orang lain. Bahkan banyak yang merasa lebih hebat dibanding Nabi, sehingga tidak mendengar apa yang dikatakan oleh para Nabi. Jika sombong lebih kepada membandingkan dengan orang lain, maka percaya diri justru sebaliknya. Percaya diri lebih berfokus pada kesamaan antara manusia. Orang akan percaya diri jika dia merasa sama dengan orang lain. Merasa memiliki perbedaan, justru akan menimbulkan sikap negatif. Merasa lebih rendah disebut rendah diri. Sementara orang yang merasa lebih baik disebut sombong. Rendah diri ada yang positif dan ada yang negatif. Rendah diri dihadapan Allah adalah rendah diri yang positif, sementara rendah diri di hadapan manusia adalah perbuatan tercela. Tidak ada makhluq yang lebih mulia di sisi Allah, kecuali karena ketaqwaanya. Artinya manusia itu sama, sehingga yang menentukan nanti di akhirat hanyalah ketaqwaanya. Bukan pangkat, pendidikan, jabatan, dan harta kekayaan. Kita tidak perlu merasa rendah diri dihadapan siapa pun, kecuali di hadapan Allah. Justru, jika kita yakin bahwa kita sama dengan orang lain, akan muncul suatu sikap percaya diri. Jika orang lain bisa melakukan hal yang luar biasa, maka Anda pun bisa melakukannya. Teknologi NLP sudah banyak menunjukan bahwa kita bisa melakukan apa pun yang kita ingin lakukan. Apa lagi jika sudah ada orang lain yang pernah melakukannya. Yang seringkali menghambat kita untuk melakukan hal yang sama dengan orang lain, karena justru pikiran kita sendiri. Atau apa yang kita lakukan, belum sama dengan orang lain. Intinya, kepercayaan diri menganut prinsip kesamaan antara kita dengan orang lain. Allah menciptakan manusia sama dengan segala potensinya. Jika kita seolah tidak bisa melakukan apa yang dilakukan oleh orang lain, sesungguhnya karena kita belum tahu caranya secara akurat. Mungkin kita baru melakukannya sebagian. Namun disayangkan, kita sering terburu-buru mengubur potensi diri kita sendiri. Saat ada orang lain yang memiliki cita-cita tinggi. Bahkan jauh lebih tinggi dibanding keyakinan kita. Anda tidak perlu menyebutnya sombong. Anda sendiri bisa memiliki cita-cita dan kemampuan untuk meraihnya seperti orang lain. Yang Anda perlukan ialah bagaimana memompa pikiran Anda agar memiliki keyakinan yang sama dengan orang lain. Jadi, sebelum mengatakan orang lain sombong, mungkin kitanya yang rendah diri.
ok.

=========================================================================


BELAJAR DARI ILMU PADI

Ada pepatah yang mengatakan “Jadilah seperti padi, semakin berisi semakin merunduk”. Pepatah ini lah yang menjadi renungan kita dari dulu. Memang untuk menjadi seperti buah padi itu susah dilakukan (bahkan kita sendiri tidak tahu apa kita bisa memiliki sifat layaknya buah padi). Ketika kita memiliki suatu kelebihan yang diberikan Allah, kita seringkali berbangga diri dengan kelebihan itu. Misalnya saja, pada saat kita lulus sekolah baik itu S1, S2 atau S3, kita merasa bahwa keberhasilan kita itu merupakan usaha kita sendiri, atau bahkan kita merasa diri kita lebih hebat dari orang lain yang dibawah kita level pendidikannya. Atau ketika kita berhasil dalam pekerjaan kita, misalnya menjadi pemimpin disebuah perusahaan, atau jabatan kita lebih tinggi dari orang lain sehingga kita merasa bahwa jabatan itu kita dapatkan karena usaha kita sendiri dan lain-lain masih banyak lagi contohnya.

Pada saat kita merasa diri kita lebih dari orang lain yang dibawah kita, atau pada saat kita merasa bahwa kita berhasil karena kerja keras kita semata, maka pada saat itu kita telah lalai terhadap tujuan hidup kita. Pada hakekatnya, kita hidup didunia ini adalah menjalankan suatu skenario yang telah ditetapkan oleh Allah SWT dengan satu tujuan hidup yaitu beribadah/menyembah kepada Allah (QS 51 : 56). Jadi seseorang itu pintar, bodoh, cantik/tampan, jelek, kaya, miskin, itu semua sudah ditetapkan. Kadang-kadang kita lupa akan hal itu. Ketika kita diberi kenikmatan dalam bentuk kekayaan, kita lantas agak malu jika bergaul dengan orang miskin. Ketika kita diberi kenikmatan kecantikan/ketampanan, kita lantas malu bergaul dengan yang jelek dan sebagainya. Padahal kalau kita mau berfikir, emangnya si miskin itu mau ditakdirkan jadi miskin? atau si jelek itu mau ditakdirkan jelek, yang bodoh emangnya mau dapat bagian hidup jadi orang bodoh? kalau seandainya kita boleh merequest kepada Allah takdir kita, tentu setiap orang pengennya jadi yang sesempurna mungkin, pengen jadi orang yang kaya, punya kekuasaan, pintar, cantik/tampan, dll pokoknya yang wah dimata manusia. Tapi apa yang ada dikehidupan nyata? kita memiliki bagian masing-masing dengan kelebihan dan kekurangannya. Allah telah menetapkan kehidupan didunia ini dengan segala kadarnya yang terbaik. Maka dari itu jika kita merasa kita diberikan kelebihan oleh Allah,swt hendaknya kita jangan terlalu berbangga hati atau pun terlalu gembira dengan kelebihan itu apalagi merasa lebih dari orang lain, karena kelebihan kita itu hanya pemberian dari Allah,swt. Coba kita bayangkan bagaimana jika bukan kita yang diberi kelebihan itu, misalnya kita diberi kelebihan dengan otak yang cerdas, kemudian kita merasa diri kita lebih pintar dari teman kita yang kurang cerdas. Bagaimana jika Allah menukarnya, kita yang menjadi orang yang kurang cerdas itu dan teman kita menjadi yang cerdas, apa yang akan kita lakukan?

Kita tidak berhak untuk berbangga diri atau merasa lebih dari orang lain, karena pada dasarnya kelebihan yang kita miliki hanyalah pemberian/titipan dari Allah SWT. Bisa saja suatu saat nanti ternyata Allah,swt mentakdirkan kita kehilangan semua kelebihan kita sehingga kita tidak memiliki lagi apa-apa yang dulu kita bangga-banggakan.

Demikian pula bagi yang merasa memiliki banyak kekurangan dalam hidupnya. Jangan pernah merasa rendah diri dari orang lain, karena sesungguhnya kehidupan yang kita miliki memang itu lah yang ditakdirkan Allah,swt untuk kita. Jadi jangan merasa bahwa level kita di bawah level orang sehingga kita menjadi minder. Asalkan kita selalu berusaha menjadi yang terbaik, maka urusan takdir adalah urusan Allah,swt. Kita memang wajib berusaha, tapi jika usaha keras yang kita lakukan belum membuat level kita naik, itu memang sudah kehendak Allah,swt. Artinya itulah yang terbaik untuk kita. Allah,swt Maha Tahu yang terbaik untuk hambaNya. Yang penting tugas kita adalah selalu berusaha dan berdoa dengan tulus dan ikhlas.

Teruslah berusaha menjadi yang terbaik di bidang masing-masing. Dan yang terpenting teruslah selalu berusaha memperbaiki iman dan amalan kita. Dan janganlah menjadi orang yang sombong. Jadilah seperti padi, yang semakin berisi semakin merunduk….


by : Bambang Riyanto, M. Pd
==========================================================================

Ilmu Manusia Hanya Setitis ditengah Lautan yang Luas

Ada kata hikmah yang menyatakan : “Ilmu ada tiga tahap. Jika seorang memasuki tahap pertama, ia akan sombong. Jika ia memasuki tahap kedua ia akan tawadhu’. Dan jika ia memasuki tahap ketiga ia akan merasa dirinya tidak ada apa-apanya”.
Maksud kata hikmah tersebut adalah :
Pada tahap pertama, seorang penuntut ilmu yang baru belajar biasanya akan sombong. Ia tidak menyadari keadaan dirinya dan mengira telah mencapai kedudukan yang mulia. Bahkan tak jarang ia melecehkan ulama yang lebih alim darinya. Padahal dirinyalah yang masih jahil dan masih banyak kekurangannya. Para ahli ilmu dapat mengetahui jejak orang-orang semacam ini seperti dikatakan Al Khathib Al Baghdadi :
العالم يعرف الجاهل، لأنه قد كان جاهلا، والجاهل لا يعرف العالم، لأنه لم يكن عالما
“Orang alim dapat mengenali orang jahil karena dia dulunya juga jahil. Sedangkan orang jahil tidak mengetahui orang alim karena dia belum pernah jadi orang alim”. (Al Faqih Wal Mutafaqqih : 2/365).

Pada tahap kedua, ia akan tawadhu’ karena mulai merasakan bahwa ilmunya tidak seberapa dan ternyata masih banyak yang belum diketahuinya. Ia pun mulai sadar akan kekurangan dirinya, dan ini menuntunnya untuk lebih banyak belajar dan menimba ilmu yang berguna.
Pada tahap ketiga, ia merasa tidak ada apa-apanya karena ternyata ilmu bagaikan samudera tak bertepi. Bahkan jika ia menghabiskan seluruh hidupnya untuk menuntut ilmu, maka yang ia dapatkan masih sedikit karena lautan ilmu tak terhingga luasnya. Sampai-sampai seorang penyair berkata :
ما حوى العلم جميعا أحد
لا ، ولو مارسه ألف سنة
“Tak ada seorangpun yang dapat menguasai semua ilmu yang ada,
Tak akan bisa, meskipun ia mempelajarinya selama seribu tahun lamanya”.
(Miftahus Sa’adah, Ahmad bin Musthafa : 1/6).
Memang demikianlah sebenarnya hakikat ilmu manusia, sebagaimana difirmankan Allah Ta’ala :
قُل لَّوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَاداً لِّكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَن تَنفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَداً
“Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)”. (QS. Al-Kahfi : 109).
Ibnu Katsir dalam kitab Tafsir-nya menukil perkataan ar-Rabi’ ibnu Anas yang berkata : “Ayat tersebut menggambarkan perumpamaan ilmu seluruh manusia jika dibandingkan dengan ilmu Allah bagaikan setetes air dibanding seluruh samudera”.
Cintailah Ilmu, Kejarlah Ilmu dan Aplikasikan Ilmu dengan mengamalkannya. Insha-Allah kita mampu menjadi Hamba Allah yang berjaya didunia dan akhirat. Yang penting, jangan sombong dengan Ilmu yang kita miliki, seperti yang disabdakan oleh yang mulia Rasulullah SAW, "sebarkan ilmu dariku walaupun satu ayat". Semoga kita menjadi Hamba Illahi yang taat.



Post a Comment